Empat kelompok kegiatan ini diantaranya
seperti bakti sosial dan pengembangan ekonomi kreatif, seni dan budaya,
seminar dan pengembangan ilmu pengetahuan, dan sport adventure.
Selain itu, juga ada kegiatan lainnya seperti Trabas Tambora, Ekspedisi
Selebriti Mendaki Tambora, Tambora Savana Run dan Lakey Kite Surf
Exhibition Camp.
Seluruh masyarakat di Kabupaten Dompu
begitu antusias dengan acara Tambora Menyapa Dunia ini. Pemerintah
daerah mengajak masyarakat Dompu untuk bersama-sama mendukung dan
menyukseskan acara tersebut. Acara ini diadakan dengan tujuan agar
seluruh masyarakat Indonesia dan mancanegara tahu bahwa di Dompu, Nusa
Tenggara Barat pernah ada letusan gunung yang menyebabkan perubahan
besar pada dunia.
Peristiwa meletusnya gunung Tambora
terjadi pada tanggal 10-11 April 1815 dan menjadi hari yang paling
bersejarah. Banyak yang beranggapan bahwa pada saat itu telah terjadi
“kiamat kecil”. Gunung Tambora meletus dengan sangat dahsyat hingga
kehilangan hampir separuh tinggi dan volumenya. Hal itu disebabkan
karena letusan gunung Tambora memiliki kekuatan 4 kali lipat lebih
dahsyat dari letusan yang terjadi pada gunung Krakatau di tahun 1983.
Sebelum terjadi ledakan hebat, gunung
Tambora memiliki ketinggian 4.200 m dpl. Gunung ini tercatat memiliki
puncak tertinggi kedua di Indonesia setelah Jaya Wijaya. Namun, setelah
terjadi letusan hingga melenyapkan sebagian tubuhnya, kini gunung
Tambora hanya memiliki ketinggian 2.730 m dpl.
Akibat dari letusan ini, terbentuk
kaldera dengan diameter seluas 8 KM. Sementara itu, jarak antara puncak
dan dasar kawahnya memiliki kedalaman sejauh 800 meter. Luar biasa ya,
C’Gengs?
Saking hebatnya, suara letusan gunung
Tambora terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar dan Ternate dengan
jarak 2.600 KM. Letusan ini menimbulkan debu tebal hingga mematikan
vegetasi. Akibat debunya yang tebal, gunung Tambora terlihat gelap dari
radius 600 KM selama dua hari. Bahkan sinar matahari pun tidak mampu
menembus tebalnya debu.
Peristiwa ini tidak hanya berdampak di
berbagai daerah di Indonesia saja, melainkan hingga ke luar negeri. Satu
tahun setelah terjadinya letusan, cuaca Amerika Utara dan Eropa berubah
drastis karena tidak adanya musim panas. Beberapa negara lain seperti
China, Eropa dan Irlandia mengalami gagal panen akibat peristiwa
tersebut.



